Showing posts with label Personal Investing. Show all posts
Showing posts with label Personal Investing. Show all posts

Prinsip Investasi dan Strategi Barbell

Tulisan ini dipublikasikan pada Majalah Lifestyle Asuransi ACA, edisi bulan Juni 2010




Berinvestasi memerlukan prinsip-prinsip yang perlu dipegang teguh oleh investor. Berbagai penelitian terhadap investor-investor sukses, semua dari mereka selalu memegang teguh prinsipnya. Setidaknya ada tiga prinsip mendasar dalam investasi yang sangat penting untuk menjadi landasan dalam cara berpikir dan bertindak. Pertama, capital preservation atau perlindungan terhadap modal, yaitu mempertahankan apa yang telah dimiliki. Prinsip ini sangat mendasar bagi seluruh aktivitas investasi.

Seperti yang dikatakan oleh Warren Buffet: “jangan pernah kehilangan uang”. Jika kita kehilangan 50% modal, maka kita perlu mendapatkan return 100% jika ingin kembali ke modal awal. Sesuatu yang lebih sulit dilakukan. Dengan perlindungan terhadap modal yang menjadi utama, tujuan pertumbuhan aset investasi memiliki dasar yang lebih kokoh.

Kedua, mengelola risiko secara aktif. Risiko bersifat kontektual. Risiko berkaitan dengan pengetahuan, pemahaman, pengalaman, dan kompetensi (Mark Tier, 2004). Oleh karenanya investor perlu melakukan pembelajaran secara bertahap dan terus menerus sehingga dapat mempertajam kompetensi di bidangnya masing-masing. Apa yang dilakukan pembalap F1 akan tampak sangat berisiko bagi kebanyakan orang, tetapi bagi Michael Schumacher risikonya menjadi sangat rendah karena telah membangun kompetensi yang tidak dimiliki orang lain.

Ketiga, membangun model investasi yang disesuaikan profil dan karakternya. Setiap investor memiliki tujuan, kepribadian, pengetahuan, pengalaman,dan kompetensi yang berbeda-beda. Dengan prinsip ini kita dapat memahami kenapa ada investor yang lebih senang berinvestasi pada aset tertentu, lebih konservatif, namun ada juga yang terlihat agresif.

Strategi Barbell

Salah satu strategi investasi yang dapat digunakan oleh investor adalah strategi investasi barbell. Strategi ini sebenarnya lebih cocok bagi mereka yang masih aktif bekerja dan tidak memiliki keahlian yang memadai dalam investasi. Sesuai dengan namanya, barbell, investasi ini memiliki dua portofolio, kiri dan kanan. Portofolio kiri berisi aset-aset yang terdiversifikasi dengan luas, misalnya reksadana, ETF (exchange traded fund), atau investasi yang menjadi indeks sebagai basisnya. Portofolio kanan berisi aset-aset yang memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi, seperti saham lapis kedua, venture capital, dan investasi pada bisnis.


Gambar 1. Strategi Investasi Barbell
Sumber: Lucas (2006)


Strategi ini akan semakin bekerja dengan baik apabila didukung poros penopangnya, yaitu secara disiplin melakukan investasi yang rutin setiap waktunya. Keseimbangan antara portofolio kiri dan kanan disesuaikan tidak hanya dengan nilai uangnya tetapi juga usaha yang dilakukan. Pada portofolio kiri, karena sifatnya terdiversifikasi luas, maka akan tidak memerlukan perhatian lebih banyak dibandingkan portofolio kanan. Oleh karenanya, portofolio kiri biasanya memiliki bobot nilai uang yang lebih tinggi dibandingkan portofolio kanan. Namun, tentunya hal ini tergantung karakteristik investor dan peluang yang ada. Dengan demikian, waktu/momentum juga menjadi pertimbangan dalam alokasi aset pada strategi barbell.

Strategi barbell memberikan insight bahwa dengan melakukan investasi yang rutin, Anda telah melakukan perlindungan terhadap uang yang dimiliki dari penggunanaan yang kurang tepat. Anda yang sedang bekerja dan mengabdi pada bidang lain di luar investasi, dapat memfokuskan energi pada bidang kompetensi Anda, namun tetap memiliki peluang dalam pertumbuhan kekayaan yang memadai.

Apapun strategi yang digunakan, sebaiknya Anda mengimplementasikan ketiga prinsip investasi yang telah dijelaskan sebelumnya dengan sungguh-sungguh. Keberhasilan investasi akan berpeluang semakin besar apabila terjadi keselarasan antara prinsip, strategi, dan implementasi secara disiplin. Salam investasi!


Oleh:
Guntur Tri Hariyanto dan Roy Sembel
Baca Selengkapnya...

Investasi dan Portofolio: Berinvestasi dengan Nyaman dan Aman

Tulisan ini dipublikasikan pada Koran Investor Daily, 25 Januari 2010




Tidak sedikit orang yang merasa takut untuk menginvestasikan sebagian kekayaannya. Hal ini terutama biasanya disebabkan oleh ketidakpahaman tentang berbagai hal fundamental mengenai investasi itu sendiri. Terlebih banyak berita yang mengungkapkan sisi negatif dari dunia investasi. Seperti penipuan oleh beberapa lembaga pengelolaan dana masyarakat yang berkedok investasi, yang mengiming-imingi tingkat pengembalian tinggi dalam waktu cepat.

Sebagian orang beranggapan bahwa mereka telah melakukan investasi walau sebenarnya hanya menabung. Ada perbedaan antara keduanya. Menabung sesungguhnya lebih kepada penundaan penggunaan uang saat ini untuk digunakan di masa depan. Sedangkan investasi memiliki tujuan untuk menghasilkan peningkatan kesejahteraan dengan mengakumulasikan kekayaan yang dimiliki investor. Bahasa lainnya adalah bagaimana membuat uang bekerja bagi kita dan kemudian menghasilkan pendapatan sesuai yang diharapkan berdasarkan risiko yang ditanggung.


Pemilihan Aset Investasi


Pemahaman akan klasifikasi aset-aset investasi akan berguna bagi investor dalam pemilihan aset-aset investasinya. Klasifikasi aset investasi biasanya didasarkan pada profil risiko dan potensial return (imbal hasil) suatu aset. Tabel 1 memberikan contoh-contoh aset investasi beserta profil risk-return aset tersebut.



Tabel 1. Profil Risk-Return Aset Investasi

Sumber: Modifikasi dari Sembel dan Sugiarto (2009), CAPITAL PRICE



Beberapa hal yang sebaiknya juga diperhatikan oleh investor sebelum melakukan pemilihan aset dan kemudian melakukan investasi adalah:

  1. Tetapkan tujuan investasi dan horison waktu investasi. Tujuan investasi menjadi dasar semua kegiatan investasi yang dilakukan.
  2. Menentukan tingkat toleransi risiko. Sebaiknya toleransi risiko disesuaikan dengan kondisi investor, seperti umur dan horison waktu investasi.
  3. Mempersiapkan dana investasi. Dana investasi sebaiknya dana yang memang telah dialokasikan khusus, sehingga tidak mengganggu dana untuk alokasi pemenuhan kebutuhan pengeluaran, seperti biaya sekolah dan dana emergensi.
  4. Penilaian diri atas pemahaman tentang dunia investasi . Ini mengikuti Bapak Warren Buffet, yaitu berinvestasilah pada sesuatu yang memang dipahami.
  5. Kemampuan dalam akses informasi. Dunia investasi adalah dunia yang sangat dinamis, dimana akses informasi yang memadai akan menjadi penting dalam pemantauan perkembangan aset-aset investasi.

Pembentukan Portofolio


Dalam berinvestasi sangat disarankan bagi investor untuk membentuk portofolio. Portofolio adalah kumpulan aset-aset yang telah didiversifikasi dengan bermacam klasifikasi aset. Diversifikasi akan mereduksi risiko naik-turunnya nilai keseluruhan investasi secara berlebihan (risiko berlebihan), namun tetap memiliki potensial return yang memadai.


Sebagai ilustrasi, misalnya seorang investor berumur 30 tahun dan masih aktif bekerja di bidang teknik perminyakan yang memiliki dana untuk diinvestasikan sebesar Rp 1 Milyar. Namun, di luar dana tersebut dia telah mempersiapkan dana cadangan untuk kondisi emergensi sebesar 6 kali dari rata-rata pengeluaran satu bulannya. Tujuan investasinya adalah pertumbuhan kekayaan dalam jangka panjang, dengan tingkat toleransi risiko yang moderat.


Setelah melalui berbagai pertimbangan, investor tersebut membentuk portofolionya. Pilihan portofolionya adalah 10% dialokasikan ke reksadana pasar uang, 20% ke reksadana terproteksi, 10% ke reksadana pendapatan tetap, 10% ke reksadana campuran, 10% ke exchange traded fund (ETF) saham, 20% ke properti, 10% ke saham perusahan lapis kedua di BEI, serta 7,5% reksadana saham internasional, dan 2,5% ke emas. Investasi emasi biasanya disarankan sebagai sarana lindung nilai (hedging) terhadap inflasi dalam jangka panjang, dan dianjurkan tidak melebihi 2,5% dari porsi portofolio.


Dengan demikian investor tersebut telah melakukan diversifikasi risiko aset-aset investasinya, namun tetap mempertimbangkan tujuan investasinya. Tentunya ini hanya merupakan ilustrasi, bagi setiap investor akan menjadi berbeda-beda kasusnya.


Efek Diversifikasi: Studi Kasus Saham


Efek diversifikasi pada portofolio terlihat jelas digambarkan oleh Gambar 1. Pada gambar tersebut disandingkan profil risk-return satu saham emiten (PTBA) dengan IHSG dari tahun 2004 hingga 2008 (dihitung secara tahunan).


IHSG adalah portofolio saham pasar yang terdiri dari berbagai emiten yang listing di BEI. Tingkat risiko (volatilitas) portofolio pasar menjadi jauh lebih kecil dibandingkan satu saham. Namun demikian, tingkat rerata pengembalian IHSG cukup memuaskan dengan kisaran 20%-60%.


Saham PTBA memang terlihat memberikan return yang besar, namun tingkat volatitas harga sahamnya juga besar. Tentunya tidak semua orang dapat nyaman dengan fluktuasi risk-return yang cukup besar.



Gambar 1. Perbandingan Risk-Return Saham PTBA dengan IHSG
Sumber data: Capital Market Trends, CAPITAL PRICE



Perbandingan keduanya menjadi cukup ekstrim, karena satu saham dibandingkan terhadap portofolio yang terdiri dari ratusan saham. Intinya adalah investasi dengan portofolio memberikan peluang lebih besar bagi investor untuk berinvestasi dengan nyaman dan aman, serta imbal hasil yang memadai.


Berapa banyak aset investasi dan bagaimana alokasi aset yang perlu dilakukan, hal ini kembali lagi kepada tujuan investasi dan profil setiap investor. Salam Investasi!



Oleh:
Guntur Tri Hariyanto dan Roy Sembel





Baca Selengkapnya...

Menjadi Investor Individu yang Sukses



Menjadi seorang investor individu yang sukses adalah impian banyak orang. Hal tersebut tidak mudah untuk dilakukan, namun tentunya bisa menjadi kenyataan. Bahkan, bila mampu mewujudkannya, kinerja seorang investor individu dapat melebihi kinerja para professional dan kinerja pasar. Hal ini berarti seorang investor mampu menjadi penasihat dan pengelola dana bagi investasinya sendiri. Apa saja yang harus menjadi perhatian investor individu untuk dapat mencapai kesuksesan berinvestasi? Berikut ini adalah beberapa hal penting yang perlu diperhatikan:

Keseimbangan antara emosi dan logika

Emosi seringkali terkait dengan keberanian seseorang dalam mengambil keputusan. Dalam berinvestasi keberanian sangat dibutuhkan, terlebih bila kesempatan yang datang mengharuskan untuk mengambil keputusan dengan cepat dengan informasi yang kurang memadai. Namun, bila seorang investor membiasakan diri mengambil keputusan tanpa perhitungan dan informasi yang memadai akan memberikan nilai tambah bagi risiko yang ditanggung dari keputusan yang dibuat. Salah-salah membuat keputusan, bisa saja yang diperoleh adalah kerugian yang amat besar. Oleh karenanya seorang investor harus mampu membangun sistem logika dalam mengambil keputusan sehingga tidak dikuasai oleh emosi, dengan demikian keputusan yang dibuat berdasarkan pertimbangan yang logis antara risiko dan peluang tingkat pengembalian yang diharapkan.

Kedisiplinan diri

Membangun kedisiplinan diri dalam berinvestasi menjadi syarat yang mutlak. Agar tidak dikuasai oleh emosi, sistem logika yang dibangun oleh seorang investor harus dilakukan dengan disiplin. Banyak hal yang menggoda seorang investor untuk tidak berdisiplin terhadap sistem logika investasinya, berbagai iming-iming keuntungan dan atau peluang seringkali menggiurkan, terutama dalam jangka pendek. Perolehan keuntungan dalam waktu singkat dan cepat tentu sangat menggoda untuk dapat diraih, namun kiranya perlu hati-hati dengan kondisi seperti itu. Akan jauh lebih menguntungkan bila seorang investor tetap berpendirian teguh dengan prinsip investasi yang sesuai dengan karakteristiknya, karena setiap orang memiliki karakteristik investasi yang berbeda-beda dan peluang yang datang belum tentu cocok dengan karakteristiknya.

Kemampuan membaca angka

Dunia keuangan dan investasi penuh dengan angka. Laporan keuangan perusahaan berisi angka-angka yang harus mampu diekstrak sehingga dapat menggambarkan perusahaan yang sebenarnya. Data obligasi, kinerja reksa dana, indikator pasar, indikator ekonomi makro dan lainnya disajikan dengan angka-angka. Menjadi hal yang sangat penting bagi seorang investor individu untuk mengembangkan kemampuannya dalam membaca dan mengintepretasikan angka-angka dalam dunia keuangan dan investasi. Dengan demikian keputusan yang dibuat tentunya akan menjadi lebih baik.

Pengakuan atas keterbatasan diri

Seorang investor memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri dalam bidang-bidang tertentu. Misalnya, seorang investor baru mengetahui seluk-beluk tentang saham, maka perlu diakui secara jujur bahwa pengetahuan tentang pasar obligasi, valuta asing dan lainnya masih lemah. Bidang tertentu yang dipahami dengan baik akan menimbulkan kepercayaan diri dan keputusan yang dibuat berdasarkan pengetahuan yang baik pula. Bidang yang belum dipahami dengan baik perlu dibangun secara bertahap, atau dapat juga mengandalkan informasi dari pihak-pihak yang memang expert dalam bidang tersebut, misalnya lembaga riset tertentu. Namun tentunya perlu dalam membaca informasi suatu lembaga perlu ada pembandingya sehingga seorang investor dapat membuat keputusan yang berimbang.

Menjadikan investasi sebagai hobi

Sudah banyak bukti yang menggambarkan dari hobi dapat mendatangkan kesuksesan. Agar sukses berinvestasi, maka perlu dijadikan sebagai hobi. Dengan hobi biasanya seseorang menjadi penuh perhatian dan menyenangi apa yang dilakukan. Energi, perhatian, dan fokus diberikan pada hobi tersebut dengan senang gembira. Energi positif dan konsentrasi tersebut akan membawa pada proses pembelajaran yang cepat, kematangan emosi dan logika, serta kedisiplinan diri yang tinggi.

Menghindari mentalitas mengekor

Mungkin tidak asing lagi bagi kita melihat fenomena bila seseorang berhasil dengan suatu bisnis, maka akan ada banyak orang yang mengikutinya. Fenomena ini bisa disebut sebagai mentalitas mengekor. Didalam pasar juga terjadi hal seperti itu. Investor-investor sering mengikuti pergerakan investor yang menjadi acuan, walaupun sebenarnya pergerakan investor acuan tersebut belum tentu tepat bagi investor individu. Sebaiknya investor individu melakukan keputusan investasi berdasarkan keputusan sendiri sesuai dengan karakteristik, kemampuan, dan informasi yang dimilikinya. Sudah banyak bukti bisnis yang ikut-ikutan akan menimbulkan ketidakcocokan dan kerugian bagi pelakunya, demikian pula dalam berinvestasi. Lakukanlah dengan pertimbangan yang matang jika memang ingin melakukan ‘pengekoran’, dan jadikanlah sebagai pelajaran sehingga di kemudian hari tidak perlu lagi melakukan hal tersebut.

Melakukan sesuatu dengan senang hati, menjadi diri sendiri, dan belajar dari kesalahan akan membawa pada kematangan pribadi. Bercermin pada Warren Buffet, yang membedakannya dengan investor yang lain adalah kemampuannya dalam mengendalikan diri sendiri. Selamat berinvestasi!
Baca Selengkapnya...